peace sign peace sign Selamat Hari Natal danTaon Baru ya... peace sign peace sign

Mari Menapak Tahun yang Baru Bersama-sama

Ayo semua pemuda HKBP Yogyakarta untuk bersama-sama saling bahu-membahu membangun gereja kita dengan lebih baik lagi.

Tuhan selalu beserta kita.

Amin.

Sabtu, 21 Februari 2009

Cinta Kasih itu Indah


Cinta Kasih memang indah. Keindahannya tidak hanya memperindah hidup mereka yang memiliki cinta kasih itu, tetapi keindahan itu akan menebar kepada siapapun yang menerimanya. Dengan cinta kasih, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Hanya cinta kasih yang bisa mengatasi segala ketidakpuasan. Siapapun yang telah mengenal cinta kasih itu akan menyadari bahwa tak ada yang lebih berharga untuk dilakukan selain menyebarkan cinta kasih itu kepada siapa saja yang berhak untuk menerimanya. Sebab cinta kasih itu adalah milik siapapun dan siapapun berhak mendapatkannya. Cinta Kasih memang terlalu indah untuk dilaksanakan.

Mengapa kasih begitu indah?

Cinta Kasih Adalah Memberi


Tidak ada istilah menuntut ataupun berpamrih bagi sebuah cinta kasih yang senantiasa memberi. Memberi dan terus memberi, berkorban dan terus berkorban adalah manifestasi sebuah cinta kasih sejati. Tidak ada batasan apapun bagi cinta kasih untuk enggan memberi atau sebaliknya memberi pemakluman, memberi maaf adalah cinta kasih. Sebagaimanan cinta kasih Tuhan kepada kita semua, bukankah Tuhan selalu memaklumi kekhilafan kita? Bukankah Tuhan senantiasa membuka pintu pengampunan bagi kita yang benar-benar bertobat kepada-Nya? Tuhan selalu menerima kita apa adanya. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Justru dengan kasih-Nya lah Tuhan telah memberi kebebasan dan ruang gerak bagi kita untuk menapaki jalan hidup kita di atas dunia ini. Tetapi sayangnya sebagai manusia sesat, kita telah mempermainkan pemberian Tuhan yang penuh cinta kasih itu, dengan berbuat seenaknya sampai mengingkari Hati Nurani. Akhirnya hanya kehancuran yang kita terima sebagai akibat dari semua kesombongan dan kerakusan kita manusia.

Tak ada pemberian Tuhan yang tidak indah. Lihat saja alam raya ciptaan Tuhan ini. Tak ada yang tidak memancarkan keindahan dan memberikan jasanya. Langit, bumi beserta isinya, semuanya telah berjasa kepada kita. Namun dengan kerakusan akhirnya kita manusia hanya merusak keindahan pemberian Tuhan itu. Sebagaimana juga rencana dan kehendak Tuhan yang selalu indah, namun kita selalu melanggarnya sesuka hati.

Padahal cinta kasih itu begitu indah, seperti cinta kasih Tuhan yang tak pernah berakhir buat kita. Dan justru keindahannya itu terletak pada kemampuan cinta kasih untuk memberi dan terus memberi.

Cinta Kasih Adalah Damai

Karena cinta kasih bisa mengatasi segala perbedaan, menyelesaikan setiap konflik dan pertikaian, maka cinta kasih itu adalah simbol dari kedamaian. Itulah yang membuat kasih menjadi begitu indah untuk diberikan dan dinikmati siapa saja. Tak ada yang menolak sang cinta kasih itu, sekalipun diungkapkan berbeda-beda. Apabila semua pihak mampu mengatas-namakan cinta kasih dalam semua aspek kehidupan maka dunia pasti akan damai sentosa. Di situlah letak keindahan cinta kasih!

Cinta Kasih Adalah Terang Hati Nurani

Cinta kasih adalah pancaran yang bersumber dari Hati Nurani yang maha terang. Cinta kasih itu indah sebab Hati Nurani maha indah. Mengapa Hati Nurani maha indah? Hati Nurani adalah percikan suci roh Tuhan yang berada dalam setiap ciptaan-Nya. Hati Nurani maha sempurna, maha indah seperti Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Memiliki.

Kita semua memiliki cinta kasih, sebab kita adalah ciptaan-Nya. Percikan suci roh Tuhan yang kita sebut Hati Nurani itu berada di dalam diri kita semua, termasuk setiap makhluk ciotaan-Nya di atas dunia ini. Untuk itu, aku, engkau dan dia tiada beda. Kita semua memiliki cinta kasih itu.

Disadur dari www.kasihlestari.org

Minggu, 25 Januari 2009

Pidato Resmi Obama saat Pelantikan


'Time has come to reaffirm our enduring spirit'
WASHINGTON - My fellow citizens,
I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.
Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.
That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.
These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land — a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.
Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America — they will be met.
On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.
On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.
We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.
In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted — for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things — some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.
Click for related content
Newsvine: How would you rate Obama's speech?

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.
For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.
For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.
Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.
'There is work to be done'
This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions — that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.
For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act — not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.
Now, there are some who question the scale of our ambitions — who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.
What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them— that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works — whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account — to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day — because only then can we restore the vital trust between a people and their government.
Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control — and that a nation cannot prosper long when it favors only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart — not out of charity, but because it is the surest route to our common good.
As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our Founding Fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more. Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.
We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort — even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.
For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus — and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.
To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.
'Faith and determination'

As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment — a moment that will define a generation — it is precisely this spirit that must inhabit us all.
For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.
Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility — a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.
This is the price and the promise of citizenship.
This is the source of our confidence— the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.
This is the meaning of our liberty and our creed — why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.
So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:
"Let it be told to the future world...that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive ... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."
America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.
Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

Itulah cuplikan dari pidato pengukuhan Barrack Husein Obama, Presiden AS ke 44.
Semoga dengan itu janjinya akan perdamaian dunia bisa terwujud.
Amin.

Kamis, 18 Desember 2008

Selamat Natal dalam berbagai bahasa

* African => Rehus-Beal-Ledeats
* Albanian => Gezur Krislinjden
* Arabic => Idah Saidan Wa Sanah Jadidah
* Argentine => Feliz Navidad
* Armenian => Shenoraavor Nor Dari yev Pari Gaghand
* Basque => Zorionak eta Urte Berri On!
* Bengali => Shubho Barodin
* Bohemian => Vesele Vanoce
* Brazilian => Boas Festas e Feliz Ano Novo
* Bulgarian => Tchestita Koleda; Tchestito Rojdestvo Hristovo
* Catalan => Bon Nadal i un Bon Any Nou
* Chile => Feliz Navidad
* Chinese (Cantonese) => Gun Tso Sun Tan’Gung Haw Sun
* Corsican => Pace e salute
* Croatian => Sretan Bozic
* Czech => Prejeme Vam Vesele Vanoce a stastny Novy Rok
* Danish => Glaedelig Jul
* Dutch => Vrolijk Kerstfeest en een Gelukkig Nieuwjaar
* Egyptian => Colo sana wintom tiebeen
* English => Merry Christmas & Happy New Year
* Eskimo => Jutdlime pivdluarit ukiortame pivdluaritlo
* Estonian => Rõõmsaid Jõulupühi
* Finish => Hyvää Joulua or Hauskaa Joulua
* Flemish => Zalig Kerstfeest en Gelukkig nieuw jaar
* French => Joyeux Noël et Bonne Année
* Gaelic => Nollaig chridheil agus Bliadhna mhath ur
* German => Froehliche Weihnachten und ein gluckliches Neues Jahr
* Greek => Kala Christougenna Kieftihismenos O Kenourios Chronos
* Hawaiian => Mele Kalikimaka & Hauoli Makahiki Hou
* Hebrew => Mo’adim Lesimkha. Shana Tova
* Hindi => Shubh Naya Baras
* Hungarian => Kellemes Karacsonyiunnepeket & Boldog Új Évet
* Icelandic => Gledileg Jol og Farsaelt Komandi ar
* Indonesian => Selamat Hari Natal
* Iraqi => Idah Saidan Wa Sanah Jadidah
* Irish => Nollaig Shona Dhuit
* Italian => Buon Natale e Felice Anno Nuovo
* Japanese => Shinnen omedeto. Kurisumasu Omedeto
* Korean => Sung Tan Chuk Ha
* Latin => Natale hilare et Annum Nuovo
* Latvian => Prieci’gus Ziemsve’tkus un Laimi’gu Jauno Gadu
* Lithuanian => Linksmu Kaledu
* Macedonian => Streken Bozhik
* Malayalam => Puthuvalsara Aashamsakal
* Maltese => Nixtieklek Milied tajjeb u is-sena t-tabja
* Mandarin => Kung His Hsin Nien bing Chu Shen Tan
* Maori => Meri Kirihimete
* Marathi => Shub Naya Varsh
* Mongolian => Zul saryn bolon shine ony mend devshuulye
* Norwegian => God Jul og Godt Nyttår
* Oriya => Sukhamaya christmass ebang khusibhara naba barsa
* Papua New Guinea => Bikpela hamamas blong dispela Krismas na Nupela yia i go long yu
* Philippines => Maligayang Pasco at Manigong Bagong Taon
* Poland => Wesolych Swiat Bozego Narodzenia
* Portuguese => Boas Festas e um feliz Ano Novo
* Punjabi => Nave sal di mubaraka
* Pushto => Christmas Aao Ne-way Kaal Mo Mobarak Sha
* Rumanian => Sarbatori vesele
* Russian => Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva is Novim Godom
* Samoan => La Maunia Le Kilisimasi Ma Le Tausaga Fou
* Sardinian => Bonu nadale e prosperu annu nou
* Scots => Gaelic Nollaig chridheil huibh
* Serbian => Hristos se rodi
* Singhalese => Subha nath thalak Vewa. Subha Aluth Awrudhak Vewa
* Slovak => ciid wanaagsan iyo sanad cusub oo fiican
* Slovenia => Vesel Bozic in Srecno novo leto!
* Somalis => Vesele Vianoce. A stastlivy Novy Rok
* Spanish => Feliz Navidad y Próspero Año Nuevo
* Swedish => God Jul och Gott Nytt År
* Tamil => Nathar Puthu Varuda Valthukkal
* Thai => Suksan Wan Christmas lae Sawadee Pee Mai
* Turkish => Noeliniz Ve Yeni Yiliniz Kutlu Olsun
* Ukrainian => Veseloho Vam Rizdva i Shchastlyvoho Novoho Roku
* Urdu => Naya Saal Mubarak Ho
* Vanina => Bon Natale a Tutti
* Vietnamese => Chuc Mung Giang Sinh - Chuc Mung Tan Nien
* Welsh => Nadolig LLawen a Blwyddyn Newydd Dda

Hadiah NATAL yang Mahal

Penulis cerpen Amerika terkemuka, O. Henry, menulis sebuah kisah
Natal tersohor. Kisah itu tentang sepasang suami-istri muda yang
sedemikian saling mencintai. Natal sudah dekat dan mereka ingin saling
memberikan hadiah. Tetapi mereka sangat miskin dan tidak mempunyai uang untuk
membeli hadiah. Maka mereka masing-masing, tanpa saling memberi
tahu, memutuskan untuk menjual miliknya yang paling berharga.

Bagi sang istri, harta miliknya yang paling berharga adalah
rambutnya yang panjang berkilau. Ia pergi ke sebuah salon dan menyuruh
memotong rambutnya. Kemudian ia menjual potongan rambutnya itu untuk membeli
sebuah rantai arloji yang indah untuk arloji suaminya.
Sementara itu, sang suami pergi kepada seorang tukang emas dan
menjual satu-satunya arloji yang dimilikinya untuk membeli dua
potong sisir yang indah untuk rambut kekasihnya.

Ketika hari Natal tiba, mereka saling menyerahkan hadiah. Mula -
mula mereka menangis terharu, namun kemudian keduanya tertawa. Tidak ada
lagi rambut yang perlu dirapikan dengan sisir indah pembelian sang suami,
dan tidak ada lagi, arloji yang memerlukan seutas rantai indah
pembelian sang istri. Tetapi ada sesuatu yang lebih berharga daripada sisir
dan rantai arloji, yaitu pesan dibalik hadiah- hadiah itu; Mereka
masing - masing telah mengambil yang terbaik dari dirinya untuk diberikan
kepada pasangannya...

Suatu hadiah bukanlah hadiah jika tidak menimbulkan suatu
pengorbanan dalam diri kita, dan jika tidak menjadi bagian dari diri kita
sendiri. Yesus memberikan dari-Nya yang terbaik untuk kita. Ia memberikan
nyawa-Nya, untuk menebus dosa - dosa kita, untuk menyelamatkan
hidup kita, supaya bisa tetap bersama dengan Dia untuk
selama-selamanya.
Apa yang aku berikan kepada-Nya yang terbaik, dariku..?

"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat - sahabatnya. Kamu adalah sahabat-KU,
jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu."(Yohanes 15 :13, 14)

Disadur dari : http://www.tagnet.org/cawang/art01.htm

Senin, 17 November 2008

Arti Doa Bapa Kami...

Matius 6:7 "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang
tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan."
Artinya doa yang memiliki focus/target/sasaran yang berarti mengirim panah-panah api yang
diluncurkan ke sasarannya.

Matius 6:8 ".karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepadaNya."
Karena kita adalah bait Allah dan Roh Allah diam didalam kita (I Korintus 3:16), oleh sebab itulah
Bapa mengetahui dengan jelas segala keperluan kita. Selanjutnya dalam Roma 8:26-27 " Roh membantu
kita dalam kelemahan kita."

Matius 6:9a "Karena itu berdoalah demikian: "Bapa kami yang di surga." Prinsip doa yang
menggambarkan hubungan yang baik, manis, dan harmonis antara bapa dan anak. Yang mendorong adanya
hubungan intim antara Bapa dengan anak, dan sebaliknya adalah:
1. Kerinduan yang dalam, tanpa ini hubungan itu akan menjadi formal atau sekedar bertemu saja.
2. Kerinduan hatinya, yaitu : rindu untuk berdoa, rindu untuk beribadah, rindu untuk memuji dan
menyembah Tuhan, rindu untuk mendengar Firman Tuhan serta melakukannya, rindu untuk berjumpa
dengan Yesus.
Besarnya KERINDUAN inilah yang sangat menentukan "Pertumbuhan rohani" seseorang.
DOA dikaitkan dengan kasih AGAPE yaitu kasih yang memberi. Oleh karenanya dibutuhkan KOINONIA
(penyaluran/pemberian), merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah Allah. Dan doa merupakan
pekerjaan ke imaman yang sejati. II Tawarikh 7:14 "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut,
merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka
Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Buah
dari KERENDAHAN HATI dengan merendahkan diri dihadapan Bapa terjadi dalam contoh peristiwa Yesus
meminta Yohanes untuk membaptiskan diriNya, adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi :
1. Langit terbuka artinya berkat-berkat Allah tercurah, yang terdiri dari :
a. Keselamatan b.Kasih yang menerima c. Pelindungan yang sempurna d. Jiwani (hikmat akal
budi surgawi) e. Kesehatan f. Kasih karunia demi kasih karunia g. Jasmani
2. Roh Kudus dicurahkan artinya diberikan kuasa untuk kita agar dapat:
a. Mengalahkan si jahat
b. Berjalan sesuai dengan kehendak Allah
c. Membuat mujizat terjadi
d. Melakukan pelayanan yang lebih besar
e. Melepaskan kejahatan kepada si pendurhaka
3. Suara dari Surga artinya : Ada suara kebenaran dari Surga yang diterima sebagai rhema/nubuatan.

Matius 6:9b "Dikuduskanlah nama Mu"
Kita tahu bahwa tubuh kita adalah bait Allah I Korintus 3:16. Hal yang paling penting supaya kita
dapat hidup kudus terdapat didalam Yohanes 15:1-8 "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah
pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang
berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman
yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Dst..."
Hal kedua disamping KERENDAHAN HATI adalah KEKUDUSAN, kekudusan inilah merupakan panggilan Allah
yang paling utama, baru hal-hal yang lain menyusul. Roma 1:7 Kepada kamu sekalian yang tinggal di
Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai
kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus. I Korintus 1:2 1:2
kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang
dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama
Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
Didalam I Petrus 1:15-16 berisi : Hendaklah kamu menjadi kudus -> perintah, sama seperti ->
menjadi teladan, kuduslah kamu sebab Aku kudus -> jalan keluarnya yaitu Yesus. Didalam Yesus ->
mengikuti pola kehidupan Yesus. Jalannya bagaimana? II Tawarikh 7:14 "Berbalik dari jalan-jalanmu
yang jahat."
Orang yang RENDAH HATI baru bisa HIDUP KUDUS. Sedangkan musuh kekudusan ialah : Nafsu kedagingan
dan Motivasi. Efesus 5:9 Terang itu menyatakan : Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran (Roh Allah
sendiri/Firman Allah).
Setan bisa melakukan apa saja, kecuali kekudusan

Matius 6:10a "Datanglah Kerajaan-Mu."
Ada OTORITAS & LEGITIMASI dari Kerajaan Allah dan bukan DENOMINASI. OTORITAS ini ada 3 isinya :
Lukas 9:28-36 yaitu :
? Musa -> Kemenangan demi kemenangan
? Elia -> Mujizat demi mujizat
? Yesus -> Terangdunia demi terangdunia
Dengan Otoritas lah kita mengalahkan si jahat/ Iblis, yang memiliki struktur pemerintahan seperti
di Efesus 6:12. Jadi KEMENANGAN, MUJIZAT DAN TERANG itu adalah isi dari OTORITAS Kerajaan Allah.
Dalam Mazmur 97, ada 4 unsur yang terdapat dalam Kerajaan Allah, sbb:
1. Kebenaran dan Keadilan (ayat 2)
2. KuasaNya untuk memerintah seluruh bumi (ayat 1,6 dan 9)
3. KemenanganNya atas ilah-ilah palsu (ayat 7)
4. Sukacita orang benar (ayat 8-12)

Matius 6:10b "Jadilah Kehendak-Mu di bumi seperti di Surga."
Doa tidak dapat memaksakan supaya kehendak kita yang jadi, tetapi kehendak Bapalah yang jadi sebab
kehendakNya adalah yang terbaik untuk kita. Kehendak Bapa seperti yang tertulis dalam Yeremia
29:11.
Orang yang dalam keadaan apapun, dan setiap hari hatinya serta doanya mengatakan : Jadilah
kehendakMu di bumi seperti di Surga, adalah orang yang diddalam hidupnya terdapat ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Takut akan Allah, sangat suka akan perintahNya, juga adalah orang yang merenungkan FirmanNya
siang dan malam (Mazmur 112 :1)
2. Bersandar dan berharap sepenuhnya kepada Bapa, selalu menanti-nantikan Bapa. Inilah orang yang
hatinya teguh, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan, dan tidak takut menghadapi masalah
apapun.
3. Rohnya orang itu kuat, tidak mudah goyah, dan hidupnya menjadi berkat untuk orang lain serta
berkemenangan.
Matius 6:11 "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
Mencukupkan dari apa yang Tuhan berikan adalah awal buah pertobatan dan merupakan salah satu
ukuran pertumbuhan serta kedewasaan rohani , baru disitu keluar ucapan syukur.

Matius 6:12 dan 14 "Dan ampunilah kami akan kesalahan kami."
Hal ini merupakan WUJUD KASIH yang sangat dibutuhkan. Ulangan 24 : 12-19 Jika ia seorang miskin,
janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya; kembalikanlah gadaian itu kepadanya pada waktu
matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau.
Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu. Janganlah engkau memeras pekerja harian
yang miskin dan menderita, baik ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di dalam
tempatmu. Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia
mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan
hal itu menjadi dosa bagimu. Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak
dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri. Janganlah
engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang
janda menjadi gadai. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus
TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini. Apabila
engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk
mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda--supaya TUHAN, Allahmu, memberkati
engkau dalam segala pekerjaanmu. Dan Matius 26:13 Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke
tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di
mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga
untuk mengingat dia."
Narwastu artinya penyerahan total akan isi hatinya yang diberikan = WUJUD KASIH. Karena dimana
saja Injil diberitakan tanpa adanya wujud kasih sama dengan NOL/NONSENSE. Kalau dulu pada 2000
tahun lalu, wujud kasih berarti menyiapkan penguburan Yesus, maka sekarang berarti menyiapkan
kedatangan Kristus kedua kali.

Jumat, 10 Oktober 2008

Siapakah Roh Kudus Itu?

Pengertian mengenai Roh Kudus adalah Allah itu sendiri didasarkan pada kesaksian Alkitab. Beberapa ayat Alkitab sering menyebutkan tentang keberadaan Roh Kudus itu sendiri. Umpamanya I Yohanes 5:7 : “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga : Bapa, Firman, dan Roh Kudus; ketiganya adalah satu. Di Alkitab juga sering disebutkan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ada juga “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (II Korintus 13:13).
Sesuai dengan hal itu dapat kita ambil bahwa Allah berkenan menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya dalam tiga pribadi yang berbeda-beda yaitu : Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang juga merupakan Allah yang Esa, yang Benar, dan juga yang Kekal. Hal ini juga dapat kita umpamakan seperti contoh berikut. Matahari, melihat matahari, dapat kita bedakan besarnya, terangnya, dan panasnya, padahal kita selalu mengingat kepada matahari yang satu. Begitu pula Allah yang benar dan yang hidup itu menyatakan diri-Nya kepada kita dengan tiga pribadi yang berbeda-beda (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), padahal kita selalu mengingat kepada Allah yang Esa.


Pada Pengakuan Iman yang ketiga (Aku percaya kepada Roh Kudus), berarti kita percaya juga kepada Allah Tritunggal. Oleh sebab itu dapat kita simpulkan bahwa Roh Kudus itu bukanlah suatu roh yang tidak berketentuan. Roh Kudus tak lain dan tak bukan adalah Roh Allah itu sendiri yang merupakan pribadi yang ketiga dari Allah Tritunggal. Menurut kesaksian alkitab, angin dan api menjadi simbol atau tanda untuk Roh Kudus. Seperti angin yang mempunyai kekuatan dan gerak yang dapat kita rasakan, tetapi tidak dapat kita lihat, begitu pula Roh Kudus, yang tidak dapat kita lihat, tetapi yang berkuasa dan menggerakkan hati kita. Seperti api yang menyala memberi terang, membersihkan, dan memanaskan, begitu pula Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Ada beberapa pengajaran Yesus sendiri mengenai Roh Kudus itu (Yohanes 14:16).
1. Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14:17)
2. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu (Yoh. 14:26)
3. Ia akan bersaksi tentang Yesus Kristus (Yoh. 15:26)
4. Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8)
5. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:3)
6. Ia akan memuliakan Yesus artinya Ia akan membuat kita mengasihi Yesus dan segala pekerjaan-Nya (Yoh. 16:14)

Siapakah yang menerima Roh Kudus? Yang akan menerima Roh Kudus adalah oarang-orang yang memintanya kepda Tuhan. Ïa akan memberikan Roh Kudus kepda mereka yang meminta kepada-Nya” (Lukas 11:13).
Apa pula yang dikerjakan oleh Roh Kudus? Apa yang dapat dikerjakan oleh sesuatu kuasa di dunia ataupun oleh kita sendiri, itulah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yakni : Membaharui Hidup Kita.
Roh Kudus adalah Kuasa Allah yang mentobatkan serta membaharui hidup kita. Seperti besi yang dikerjakan oleh tukang besi dalam api yang panas, begitu pula hidup kita, sebagai manusia diubah dan disucikan oleh kuasa Roh Kudus.
(Jalan Keselamatan, Werner Pfendsack dan H.J. Visch)

Senin, 06 Oktober 2008

Persekutuan Kristen.(1Yohanes 1:1-4)

Persekutuan Kristen. Melalui teks ini kita melihat dua hal yang erat berkaitan yaitu kesaksian jemaat dan persekutuan jemaat. Tanpa kesaksian jemaat tidak mungkin terjadi persekutuan.Pertama, kesaksian jemaat (ayat 1-3a). Apa yang ada sejak semula (ayat 1), inilah yang telah mereka lihat dan yang telah mereka dengar. Kesemuanya ini menunjuk bukan pada ajaran Kristen, melainkan pada seorang pribadi. Dengan perkataan lain, yang diberitakan bukan suatu ajaran agama, melainkan pribadi Yesus. Dialah yang menjadi sumber kehidupan manusia (ayat 1,2). Hidup rohani dan jasmani manusia bersumber dari Yesus. Artinya manusia dapat memiliki hidup jasmani, namun tidak memiliki hidup rohani.

Jika manusia percaya pada Yesus melalui kesaksian orang Kristen, maka ia memiliki hidup rohani. Inilah artinya memiliki hidup kekal (ayat 2). Jadi Yesus, Pemberi hidup adalah isi pemberitaan dalam tugas kesaksian Kristen.Kedua, persekutuan jemaat. Orang yang percaya pada Yesus dihimpun dalam suatu persekutuan. Umat yang bersekutu karena Yesus kemudian menyatakan kesatuan persekutuannya melalui kesaksian. Mereka bersaksi tentang Kristus. Tujuan kesaksian adalah persekutuan (ayat 3). Umat Kristen bukan hanya suatu kumpulan sosial. Umat Kristen bersekutu untuk suatu tugas pelayanan yakni bersaksi.

Persekutuan Kristen menjadi nyata melalui kesaksian. Umat Kristen menyaksikan berita yang sama yakni Yesus adalah sumber hidup. Umat yang bersaksi menyatakan bahwa mereka bersekutu dengan Kristus dan umat Kristen lainnya. Kesaksian merupakan bukti persekutuan dengan Kristus dan persekutuan umat yang bersaksi tentang Kristus.Apa akibat kesaksian jemaat? Membawa manusia lainnya ke dalam persekutuan umat. Kesaksian akan menyebabkan munculnya persekutuan.

Renungkan: Apakah persekutuan di mana kita berjemaat tidak terlalu tampak? Menurut Anda apa penyebabnya?
(www.sabda.org)